DIMENSI PENELITIAN SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PENELITIAN AKUNTANSI

Dimensi Penelitian  Sebagai  Alternatif dalam  Penelitian Akuntansi

 

o leh: 

Drs. W a r t o n o, M.Si., Akuntan

Staf Pengajar Universitas Sebelas Maret

Pengantar

Penelitian akuntansi yang banyak dilakukan menggunakan pendekatan maintreams. Di sisi lain terdapat dimensi penelitian lain yang tidak kalah menariknya, yaitu penggunaan penelitian dengan pendekatan non mainstreams. Begitu pula,  yang menarik untuk dapat dilakukan adalah menggunakan penelitian kualitatif dalam akuntansi. Beragam dimensi penelitian baik yang mendasarkan mainstreams maupun non mainstreams akan diuraikan sebagai acuan dalam melakukan penelitian dalam bidang akuntansi.

 

A. Kuantitatif Versus Kualitatif

Penelitian dapat dikategorikan dalam penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif[1] . Istilah penelitian kualitatif menurut Kirk dan Miller (1986:9) pada mulanya bersumber pada pengamatan kualitatif yang dipertentangkan dengan pengamatan kuantitatif. “ Ada beberapa istilah yang digunakan untuk penelitian kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnografi, interaksionis simbolik, perspektif ke dalam, etnometodologi, the Chicago School, fenomenologis, studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif” (Bogdan dan Biklen, 1982:3). Pemakai istilah inkuiri naturalistik atau alamiah pada dasarnya kurang menyetujui penggunaan istilah penelitian kualitatif karena menganggap bahwa penelitian kualitatif merupakan istilah yang terlalu diseder­nanakan, bahkan sering dipertentangkan dengan penelitian kuantitatif. Sebenarnya alasan yang dikemukakan oleh para pengarang buku inkuiri alamiah tersebut hanyalah merupa­kan alasan pembenaran istilah inkuiiri alamiah yang diguna­kan oleh mereka (Moleong, 2006:3).

Penelitian kualitatif  berakar pada latar alamiah sebagai keutuhan, mengandalkan manusia sebagai alat penelitian, memanfaatkan metode kualitatif, mengadakan analisis data secara induktif, mengarahkan sasaran penelitiannya pada usaha menemukan teori dari dasar, bersifat deskrptif, lebih mementingkan proses dari pada hasil, membatasi studi pada fokus, memiliki seperangkat kriteria untuk memeriksa keabsahan data, rancangan penelitiannya bersifat sementara, dan hasil penelitiannya disepakati oleh kedua belah pihak: peneliti dan subyek peneliti.

 

B.Sainstifik versus Naturalistik

Penelitian dapat dikelompokkan dalam penelitian ilmiah atau saintifik dan alamiah atau naturalistik. Dengan melihat kedua pengelompokan tersebut, studi ini lebih mendekati sebagai penelitian naturalistik dari pada saintifik.

Penelitian menggunakan metode ilmiah atau saintifik (scientific method ) dilakukan dengan membangun satu atau lebih hipotesis-hipotesis berdasarkan suatu struktur atau kerangka teori dan kemudian menguji hipotesis secara empiris (Hartono, 2005: 3). Lawan dari penelitian  pendekatan ilmiah  adalah penelitian pendekatan alamiah atau natururalistik (naturalistic approach ). Pengelompokan  ini tampaknya sejalan dengan  Denzin yang menyatakan bahwa pendekatan penelitian dalam sosiologi dapat dibedakan dua tipe  (i) scientific method dan naturalistic(or interactive) approach (Denzin, 1978).   Pendekatan naruralis menolak bentuk terstruktur dari riset. Proses pembentukan struktur teori tidak dilakukan. Menurut  Abdel-Khalik dan Ajinkya (1979), penelitian menggunakan metoda naturalis ini sejalan dengan grounded theory yang dikembangkan oleh Glaser dan Straus (1967). Teori membumi (grounded theory )  meyakini bahwa cara terbaik untuk menjelaskan dan membangun teori adalah dengan menemukan dari data.

Guba (1998) mengetengahkan empat belas karakteristik yang mempunyai hubungan sinergistik, artinya bila salah satu karakteristik dipakai, karakteristik yang lain akan tampil dengan profil yang berbeda-beda. Ada hubungan logik, interdependensi dan koherensi. Karakteristik tersebut adalah: konteks natural, instrumen human, pemanfaatan pengetahuan tak terkatakan, sifat naturalistik lebih memilih, metoda kualitatif daripada kuantitatif, pengambilan sampel secara purposive, a nalisis data induktif, g rounded theory, d esain sementara, hasil yang disepakati, modus laporan studi kasus, penafsiran idiographik, aplikasi tentatif, dan i katan konteks terfokus.

Dalam dasawarsa terakhir, ada kecenderungan bahwa para akademisi berusaha lebih jauh untuk membawa akuntansi menjadi suatu ilmu pengetahuan ilmiah atau sains yang makin menjauhkan antara dunia praktik  dan dunia akademik. Penempatan akuntansi sebagai sains membawa konsekuensi bahwa teori akuntansi harus bebas dari pertimbangan nilai (value judgment) dan bersifat deskriptif. Atas dasar argumen ini, subjek/fenomena bahasan di tingkat akademik cenderung bergeser dari apa dan bagaimana suatu kejadian/transaksi harus dica­tat/dilaporkan untuk mencapai tujuan ekonomik dan sosial tertentu (teori normative)  ke apa yang nyatanya dilakukan para pelaku ekonomi (termasuk akuntan) dan rnengapa mereka berbuat demikian (teori positif atau deskriptif)

Hal tersebut ditunjukkan oleh banyaknya penelitian tentang akuntansi yang topiknya tidak berkaitan secara langsung dengan (bahkan jauh dari) praktik atau standar akuntansi yang nyatanya dipraktikkan. Di sini teori akuntansi dikem­bangkan agar pengetahuan akuntansi rnenjadi sejajar dengan pengetahuan ilmiah yang lain (misalnya ilmu alam).

Kecenderungan semacam ini menurut Suwarjono (2005: 8) makin menjauh­kan dunia praktik dengan pendidikan karena peneliti di bidang akuntansi tidak berminat lagi untuk membahas masalah bagaimana memperlakukan suatu tran­saksi dan mengapa demikian. Sementara itu, praktisi selalu dihadapkan pada rnasalah aktual yang memerlukan keputusan mendesak sehingga praktisi tidak sempat lagi untuk memikirkan teori di balik keputusannya. Kadangkala, kepu­tusan lebih banyak didasarkan pada kepraktisan dan manfaat jangka pendek.

Yang sering dimasalahkan adalah bahwa hasil-hasil penelitian para akademisi ke­banyakan tidak diarahkan untuk menjawab atau memecahkan masalah-masalah aktual yang langsung dihadapi oleh para praktisi. Berkaitan dengan ini, Kinney (1989: 119-124 )[2] menggambarkan tiga aspek penting yang saling berkaitan yang melandasi pengembangan akuntansi, yaitu: riset (research), pengajaran/pendidikan (teaching), dan praktik (practice). Praktik akuntansi akan mengalami perkembangan yang pesat dan memuas­kan apabila terjadi interaksi yang baik antara ketiga aspek di atas.

 

C. Desain Penelitian Studi Kasus

Desain penelitian dapat dikelompokkan ke dalam lima  strategi penelitian:  eksperimen, survey, analisis arsip, histories, dan studi kasus. Dilihat dari dimensi pengelompokan ini, studi yang akan dilakukan menggunakan  desain penelitian studi kasus [3] .  Pemakaian studi kasus ini akan melibatkan kita dalam penyelidikan yang lebih mendalam dan pemeriksaan yang menyeluruh terhadap perilaku seorang individu (Sevilla dkk, 1993). Disamping itu, studi kasus juga dapat mengantarkan peneliti memasuki unit-unit sosial terkecil seperti perhimpunan, kelompok, keluarga, dan berbagai bentuk unit sosial lainnya.  Studi kasus, dalam khazanah metodologi, dikenal sebagai suatu studi  yang bersifat komprehensif, intens, rinci dan mendalam serta lebih diarahkan sebagai upaya menelaah masalah-masalah atau fenomena yang bersifat kontemporer, kekinian (Aziz, 2003: 20). Namun demikian, lebih dari itu sebetulnya, tuntutan-tuntutan studi kasus atas intelek, ego, dan emosi seseorang lebih besar dari pada tuntutan terhadap strategi penelitian yang lain (Yin, 2002: 69)

Lebih lanjut diungkapkan bahwa studi kasus merupakan strategi yang lebih cocok bila pokok pertanyaan suatu penelitian berkenaan dengan bagaimana atau mengapa , bila peneliti hanya memiliki sedikit peluang untuk mengontrol peristiwa-peristiwa vang akan diselidiki, dan bilamana fokus penelitiannya terletak pada fenomena kontemporer (masa kini) di dalam konteks kehidupan . nyata. Studi kasus lebih dikehendaki untuk melacak peristiwa-peristiwa kontemporer, bila peristiwa-peristiwa yang bersangkutan tak dapat dimanipulasi. Karena itu studi kasus mendasarkan diri pada teknik­-teknik yang sama dengan kelaziman yang ada pada strategi historis, tetapi dengan menambahkan dua sumber bukti yang biasanya tak termasuk dalam pilihan para sejarawan, yaitu observasi dan wawancara sistematik. Walaupun studi kasus dan historis bisa tumpang tindih, kata Yin, kekuatan yang unik dari studi kasus adalah kemampuannya untuk berhubungan sepenuhnya dengan berbagai jenis bukti (doku­men, peralatan, wawancara, dan observasi). Lebih dari itu, dalam beber­apa situasi seperti observasi partisipan, manipulasi informal juga dapat terjadi (Yin, 2002:12).

Kekuatan utama dari pengumpulan data studi kasus terletak pada peluangnya untuk menggunakan berbagai sumber bukti (contoh yang menggunakan sumber ini, lihat Gross et. Al., 1971). Peluang untuk menggunakan multisumber bukti tersebut jauh melebihi strategi-strategi pene­litian lainnya seperti eksperimen, survei, atau historis. Eksperimen misalnya, umumnya terbatas pada pengukuran dan perekaman perilaku aktual dan umumnya tidak mencakup penggunaan survei sistematis atau informasi verbal. Survei cenderung sebaliknya, yaitu menekankan informasi verbal tetapi bukan pengukuran atau perekaman perilaku aktual. Terakhir, historis terbatas pada peristiwa-peristiwa masa lampau yang "mati" dan karenanva jarang memiliki sumber bukti kontemporer seperti observasi langsung terhadap suatu fenomena atau wawancara dengan pelaku-pelaku. Yin (2002: 120) mengungkapkan bahwa studi-studi kasus tidak harus terbatas pada sebuah sumber bukti tunggal. Kenyataannya; sebagian besar studi kasus yang lebih baik tergantung pada berbagai jenis sumber.

Studi kasus banyak dipakai bahkan disukai hampir di setiap lapangan akademis, dengan bidang-bidang hukum, bisnis, atau kebijakan umum [lihat Llewellyn (1948) Stein (1952), Towl (1969), Windsor & Greanias (1983) maupun untuk penyelesaian masalah atau evaluasi [misalnya: Auger (1971) Cronbach (1980), Friesema (1979), Gardon (1974), Kidder (1981), Linn (1982), Moore & Yin (1983), Pelz (1981), Yin (1979, 1981c). Dalam kaitannya dengan applied research , studi kasus memiliki tempat tersendiri dalam pene­litian evaluasi (lihat Patton, 1980; Cronbach dan kawan-kawan, 1980; Cuba dan Lincon, 1981).

Walaupun banyak disukai, namun terdapat kesangsian terhadap studi kasus. Kesangsian ini terjadi karena beberapa kerisauan yang meremehkan penggunaan studi kasus. Barangkali kerisauan terbesar selama ini adalah terletak pada kurang ketatnya penelitian studi kasus. Terlalu sering peneliti studi kasus tidak rapi dan mengizinkan bukti yang samar-samar atau pan­dangan bias mempengaruhi arah temuan-temuan dan konklusinya. Oleh karena itu, setiap peneliti studi kasus harus bekerja keras untuk menghindari situasi ini. Apa yang sering dilupakan ialah bahwa bias juga dapat masuk ke dalam penyelenggaraan eksperimen (lihat Rosenthal,1966) dan dalam penggunaan strategi-strategi penelitian yang lain, seperti dalam mendesain kuesioner untuk survei (Sudman dan Bradburn, 1982), atau dalam menyelenggarakan penelitian historis (Gottschalk, 1968). Persoalannya tak berbeda, namun dalam penelitian studi kasus persoalan tersebut jarang terdokumentasikan dan dikemukakan (Yin, 2002: 14)

Kerisauan umum kedua tentang studi kasus adalah hahwa studi kasus tcrlalu sedikit memberikan landasan bagi generalisasi ilmiah. “Bagaimana bisa membuat generalisasi dari studi kasus?" merupa­kan suatu pertanyaan yang seringkali terdengar. Jawabnya mudah, dan bahkan telah seringkali diupayakan tanpa hasil (lihat Guba & Lincoln, 1981 ). Namun demikian, perhatikan terlebih dahulu hahwa pertanyaan yang sama telah dipertanyakan dalam eksperimen: “Bagaimana dapat menarik generalisasi dari eksperimen tunggal?" Nyatanya, fakta-fakta ilmiah jarang sekali didasarkan pada eksperimen tunggal, yang sering ialah pada multi eksperimen - yang telah mereplika fenomena yang sama di hawah kondisi yang berbeda. Pendekatan yang sama bisa digunakan dengan studi multi­ kasus tetapi memerlukan konsep vang berbeda tentang desain penelitiannya vang cocok. Jawaban pendeknya ialah studi kasus, seperti eksperimen ­dapat digeneralisasikan ke proposisi teoretis dan bukan terhadap penduduk atau alam. Dalam kaitan ini, studi kasus, seperti eksperimen, tidak menunjukkan "sampel" dan bertujuan mengembangkan dan menggeneralisasikan teori (generalisasi analitis) dan bukan menghitung frekuensi (generalisasi statistik).

Keluhan ketiga yang sering muncul mengenai studi kasus ialah penyelengguraannya memakan waktu sangat lama serta meng­hasilkan dokumen-dokumen yang berlimpah ruah, sehingga mele­lahkan untuk dibaca. Keluhan ini mungkin memang benar, terutama untuk studi kasus di masa yang lalu, tetapi hal ini tidak perlu terjadi pada studi kasus di waktu mendatang (Yin, 2002: 16)

Dalam kurun waktu yang cukup lama, para ilmuwan telah melakukan kekeliruan  dalam berfikir bahwa studi kasus hanyalah satu tipe desain eksperimen semu (one-shot, post-test only design ). Persepsi keliru ini akhirnya diluruskan oleh pernyataan-pernyataan yang muncul dalam revisi desain eksperimen semu (Cook dan Compbell, 1979: 96). Studi kasus  telah dipandang keliru, namun  sekarang telah dipandang sebagai sesuatu yang berbeda. Ternyata memang, secara argumentatif bahwa studi kasus merupakan strategi penelitian tersendiri pula. Yin, 2002: 27).

Dengan mendasarkan keunggulan-keunggulan seperti diuraikan di atas, pendekatan studi kasus ini dipilih sebagai desain penelitian. Penelitian yang akan dilakukan menggunakan studi kasus praktik pengauditan yang dilakukan kantor akuntan publik dalam penugasan fraud , baik yang penyelesaiannya dilakukan melalui jalur hukum ataupun melalui jalur di luar hukum (musyawarah, kekeluargaan, ataupun penyelesaian lain di luar jalur hukum). Kasus praktik audit untuk penugasan kecurangan dipilih, karena dari hasil penelitian-penelitian [lihat misalnya: Lowe (1994), Epstein dan Geiger (1994), Baron et al. (1977), Frank et al. (2001), Low (1980), McInnes (1994), Humphrey et al. (1993), dan Porter (1993)] dan pengalaman peneliti (lebih dari lima belas tahun) sebagai akuntan praktisi, didapati kesenjangan ekspektasi yang relatip terbanyak. Harapannya akan dapat memperoleh pengetahuan secara totalitas mengenai praktik pengauditan, mengapa terjadi kesenjangan ekspektasi (relevansi rendah), dan bagaimana kemudi an untuk meningkatkan relevansi.

 

REFERENSI

Abdel-Klalik, R., dan Ajinkya, B.B. 1979. Empirical Research in Accounting: a methodological viewpoint. American  Accounting Association.

Aziz, Abdul. 2003.”Memahami Fenomena Sosial melalui Studi Kasus” dalam Analisis Data Kualitatif: Pemahaman filosofis dan metodologis ke arah penguasaan metode aplikasi. Burhan Bungin. Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi PT. RajaGrafindo Persada.

Baron, C.D., Johnson, D.A., Searfoss, D.G. and Smith, C.H. (1977), "Uncovering corporate irregularities: are we closing the expectation gap?", Journal ofAccountancy, Vol. 144, October, pp. 243-50.

Bogdan, Robert C . and Biklen, Sari Knopp. 1982. Qualitative Research For Education: An. Introduction to Theory and Methods, Boston: Allyn and bacon, Inc, 1982.

Bungin, Burhan. 2005. Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman filosofis dan metodologis ke arah penguasaan metode aplikasi, Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi PT. RajaGrafindo Persada.

Cook, T.D. & Campbell, D.T. 1979. Quasi-experimentation: Design and Analysis Issues for Filed Settings. Chicago: Rand Mc Nelly.

Cronbach, L.J. et al. 1980. Toward Reform of Program Evaluation: Aims, Methods, and Institutional Arrangements. San Franscisco: Jossey-Bass.

Denzin, N. 1978. Sociological Methotd: a sourcebook. New york: McGraw-Hill.

Efferin, Sujoko, Darmadji, Stefanus Hadi dan Tan, Yuliawati. 2004. Metode Penelitian Untuk Akuntansi, Sebuah pendekatan Praktis. Bayu Media, Malang

Epstein, M.J. and Geiger, M.A. 1994. "Investor views of audit assurance: recent evidence of the expectation gap", Journal ofAccountancy, Vol. 177 No. 1, pp. 6o-6.

Frank K.E., Lowe D.J., and Smith J.K. 2001. The Expectation Gap: perceptual differences between auditors, jurors and Students. Managerial Auditing Journal 16/3:  145-149

Glaser, B.N, dan Strauss, A.L. 1967. The Discovery of Grounded Theory. Chicago: Aldine Publishing Co.

Glasser, Barney G. and Strauss, Anselm L. tt. 1980. The Discovery of Ground Theory Strategies for Qualitative research. Chicago: Aldine Pub. Co.

Gordon, G. et. al. 1974. A contingency model for the design of problem-solving research programs: A perspective on diffusion research. Milbank Memorial Fund Quarterly, 52 (Spring), hlm. 185-220.

Gottschalk, L. 1968. Understanding History: A Primer of Historical Method. New York: Knopf.

Guba, Egon G. 1998. Toward Methodology of Naturalistic Inquiry Evaluation, Los Angles: Center of the Study of Evaluation UCLA Graduate School of Education, University of California, L.A.

Hartono, Yogiyanto. 2005. Metodologi Penelitian Bisnis: salah kaprah dan pengalaman-pengalaman. Yogyakarta: BPFE..

Humphrey, C.G., Moizer, P and Turley, WS. 1993, "The audit expectation gap in Britain: an empirical investigation", Accounting and Business Research.

Kaplan, Robert S. 1989.  “Commentary on The Relation og Accountint  Research to Teaching and Practice: A ‘Positive View’. Accounting Horizons. March.

Kidder, L. .1981. Research Methods on Social Relations (4th ed.). New York: Holt, Rinehart & Winston.

Kirk, Jarome & Marc L. Miller. 1986. Reliability and Validity in Qualitative Research, Vol. 1, Beverly Hills: Sage Publication,

Linn, R.L. et. al. 1982.   ”The validity of the Title I evaluation and reporting system”. In E. Reisner et al. (Eds.), Essessment of the Title I Evaluation and Reporting System. Washington, D.C.: U.S. Department of Education, April.

Llewellyn, K.N. 1948. Case method. In E. Seligman and A. Johnson (Eds.), Encyclopedia of The Social Sciences. New York: Macmillan.

Low. A.M. 1980. "The auditor's detection respon­sibility: is there an "expectation gap?", Jour­nal of Accountancy, Vol. 150, October, pp. 65-70.

Lowe, D.J. 1994. "The expectation gap in the legal system: perception differences between audi­tors and judges", Journal of Applied Business Research, Vol. 10, Summer, pp. 39-44.

McInnes, WM. 1994, "The audit expectation gap  in the Republic of South Africa", Accounting and Business Research, Vol. 24, Summer, PP. 282-3.

Moleong, Lexy J. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi, Bandung, Remaja Rusdakarya.

Moore , G.B. & Yin, R.K. 1983. Innovations in earthquake and natural hazards research. Unreinforced masonry. Washington, D.C.: COSMOS Corporation.

Muhadjir, Nung. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif,  Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Neuman, W. L. 2000. Sosial Research Methods: qualitatif and quantitative approaches. 4th Edition. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.

Patton, M.Q. 1980. Qualitative Evaluation  Methods. Beverly Hills, CA: Sage.

Pelz , D.C. 1981. Use of innovation in innovating processes by local governments. Ann Arbor: CRUSK, Institute for Social Research, University of Michigan.

Porter, B. 1993. "An empirical study of the audit expectation-performance gap", Accounting and Business Research, Vol. 24, Winter, pp. 49-68.

Sekaran, Uma.  2000. Research Methods For Buseness. John Wiley & Sons, Inc

Sevilla,C.G., et.al. 1993. Pengantar Metodologi Penelitian (penterjemah Alimuddin Tuwu dan Alam Syah). Jakarta: UI-Press.

Sprouse, Robert T. 1989.  “Commentary on The Relation of Accounting  Research to Teaching and Practice: A ‘Positive View’. Accounting Horizons. March.

Stein, H. 1952. Case method and the analysis of public adminis­tration. In H. Stein (Ed.), Public Administration and Policy Development. New York: Harcourt Brace Javonavich.

Sugiyono. 2005, Memahami Penelitian Kualitatif, Bandung: Alfa Beta.

Suwardjono. 2005, Teori Akuntansi – Perekayasaan Pelaporan Keuangan, Edisi Ketiga, BPFE, Yogyakarta

William R. Kinney, Jr. 1989.  "Commentary on The Relation of Accounting Research to Teaching and Practice: A 'Positive View'," Accounting Horizons (March: 119-124.

Wyatt, Arthur. 1989. “Commentary on The Relation of Accounting Research to Teaching and Practice: A ‘Positive View’. Accounting Horizons. March.

Yin, K.K., Bateman, P.G.. & Moore, G.B. 1983. Case studies and organizational innovation: Strengthening the con­nection. Washington, DC: COSMOS Corporation, September.

Yin, R.K. 1979. Changing urban bureaucracies: How new practices become routinized. Lexington, MA: Lexington Books.

Yin, R.K. 2002. Case Study Research: Design and Methods: Applied Social Research Method Series, Volume 5, Sage Publications. International Educational and Professional Publisher, Thousand Oaks. London – New Delhi

 



[1] Pembedaan ke dalam dua kategori ini bisa dilihat (misalnya: Bungin; 2003; Moleong, 2006;  Muhadjir, 2002; Newman, 2000;  Sekaran, 1998;  Sugiyono, 2005). Definisi penelitian kualitatif bias dilihat (misalnya: Bogdan dan Taylor, 1975:5;  Kirk dan Miller, 1986: 9; David William, 1995; Denzim dan Lincoln, 1987). Dari definisi-definisi ini disintesiskan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai konsep alamiah (Moleong, 2006: 6).

[2] . Lihat juga komentar dalam jurnal yang sama oleh Robert T Sprouse (hlm. 102-110), Thomas R. Dyckman (hlm. 111-118), Arthur Wyatt (hlm. 125-128), dan Robert S Kaplan (hlm. 129-132).

 

[3] Penggunaan istilah “studi kasus sebagai desain penelitian” ini diambil dari (Yin, 2002). Yin mendefinisi teknis mengenai studi kasus sebagai suatu inkuiri empiris yang:

·  menyelidiki fenomena di dalam konteks kehidupan nyata,

·  bilamana batas-batas antara fenomena dan konteks tak tampak dengan tegas; dan

·  di mana multisumber bukti dimanfaatkan

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+4+2

Link
Translate

Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda| Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda|Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda| Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda |

Copyright © 2014 Akuntan Publik Wartono · All Rights Reserved