DARI POSITIVISME KE NON-POSITIVISME DALAM PENELITIAN AKUNTANSI

Dari Positivisme ke  Non-Positivisme Dalam  Penelitian  Akuntansi

 

o leh: 

Drs. W a r t o n o, M.Si., Akuntan, CPA

Pengajar Universitas Sebelas Maret dan

Managing Partner Kantor Akuntan Publik WARTONO



PENGANTAR

Metodologi penelitian berbeda dengan metode penelitian. Metodologi penelitian membahas konsep teoretik berbagai metoda, kelebihan dan kelemahannya, yang dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metoda yang digunakan, sedangkan metoda penelitian mengemukakan secara teknis tentang metoda-metoda yang digunakan dalam penelitiannya. (Muhadjir, 2002: 3)

Secara filosofis, metodologi penelitian merupakan bagian dari ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana prosedur kerja mencari kebenaran. Prosedur kerja mencari kebenaran sebagai filsafat dikenal sebagai filsafat epistemologi. Kualitas kebenaran yang diperoleh dalam berilmu pengetahuan terkait langsung dengan kualitas prosedur kerjanya.

Dengan prosedur kerja yang baik, kualitas kebenaran yang diperoleh pun sejauh kebenaran epistemologik; dan ilmu pengetahuan hanya akan mampu menjangkau kebenaran epistemologik. Kebenaran epistemologik tampil dalam wujud kebenaran tesis dan lebih jauh berupa kebenaran teori, yang pada gilirannya akan disanggah oleh tesis[1] lain atau teori lain. Gerak dari tesis dan teori yang satu ke tesis dan teori yang lain merupakan proses berkelanjutan.

 

A. Perlunya metodologi alternatif

Munculnya ilmu pengetahuan dalam realitas sosial kita sebenarnya tidak terlepas dari perbincangan bagaimana ilmu pengetahuan itu dibentuk. Triyuwono (1997) melalui perspektif posmodernismenya mengungkapkan: “Metodologi merupakan pola (pattern) yang digunakan untuk memproduksi ilmu pengetahuan (teori). Dengan kata lain, ilmu pengetahuan sepenuhnya ditentukan oleh warna dan bentuk metodologinya yang didesain oleh ilmuwan. Ketika, misalnya, metode yang digunakan berdasarkan pada rasionalisme semata, maka ilmu pengetahuan yang dihasilkan akan memiliki warna yang sama, demikian juga sebaliknya bila dilandasi oleh pemikiran empirisme, atau gabungan dari kedua pola pemikiran di atas yaitu empirisme dan rasionalisme” (Triyuwono, 1996: 3). Selanjutnya pada tulisan pengantarnya dalam buku Menyibak Akuntansi Syari’ah yang ditulis Mulawarman, (2006, xviii-xix), Triyuwono mengatakan bahwa ”Terobosan (breakthrough ) metodologi sangat diperlukan untuk memecah kejumudan berfikir kita (karena terbelenggu oleh positivisme)”.

Jika dilihat dari perkembangan metodologi  di bidang ilmu pengetahuan (termasuk akuntansi), ditunjukkan bahwa telah terjadi adanya pergeseran dramatik dan revolusioner. Cooper and Hooper (1990) dalam Irianto (2004:14) mengatakan: in accounting, research based on the alternative paradigm emerged at the end of 1970s and 1980s. Ini menyiratkan bahwa sejarah penelitian di bidang akuntansi telah bergeser, metodologi ilmu pengetahuan akuntansi yang dulu mengandalkan hanya ‘satu paradigma’ tidak lagi dapat diandalkan untuk sanggup menjawab semua pertanyaan penelitian. Tidak ada lagi metodologi tunggal yang mampu menjawab realitas sosial dan seluruh kerisauan para peneliti. Sakralisasi dan kejumudan (meminjam istilah Triyuwono[2] ) terhadap ‘sebuah’ metodologi telah lewat masanya (the old-fashion ).

Uraian diatas menunjukkan bahwa penggunaan metodologi alternatif (selain positivisme) dalam perkembangan pengetahuan akuntansi  telah kian diperlukan. Keberagaman metodologi dan pendekatan ilmiah akan memicu perkembangan pengetahuan akuntansi, dari segala dimensi dan permasalahan.  Ia akan menjadi sebuah kekayaan intelektual yang melimpah dalam membangun beragam solusi atas kompleksitas realitas kehidupan (Achsin, 2006: 4).

 

A.1. Dari positivisme ke pospositivisme

Metodologi penelitian dapat digolongkan dalam metodologi penelitian  berlandaskan pospositivisme dan metodologi penelitian berlandaskan pospositivisme. Lebih lanjut Muhajir menunjukkan cakupan metodologi penelitian kualitatif terdiri atas positivisme,  pospositivisme rasionalistik, pospositivisme phenomenologik-interpretif,  dan pospositivisme dengan teori kritis[3] . Pengelompokan yang hampir sama ditunjukkan Neuman (2000: 65) yang menyebut sebagai pendekatan dalam melihat dunia – cara mengobservasi, mengukur, dan memahami realitas sosial. Newman mengelompokkan dalam tiga pendekatan: positivisme, interpretif dan kritikal.

Positivisme mempunyai beberapa kelemahan ditinjau dari ontologi, epistemologi dan aksiologi. Pertama , secara ontologik , positivisme lemah dalam hal membangun konsep teoretik, dengan konsekuensi konseptualisasi teoretik ilmu yang dikembangkan dengan metodologi yang melandaskan pada positivisrne menjadi tidak jelas, atau dapat dikatakan tiada kontribusi dalam membangun teori, sehingga ilmu­-ilmu yang dikembangkan dengan metodologi yang berlandaskan positivisme (dalam hal ini adalah ilmu-ilmu sosial) menjadi semakin miskin konseptualisasi teoretiknya; tidak ada teori-teori baru yang mendasar muncul. Banyak ilmu sosial mengalami stagnasi. Psikologi terhenti perkembangannya sampai behaviorisme; yang berkembang berikutnya adalah modifikasi­-modifikasi atas behaviorisme dengan menambah sejumlah konsep­-konsep ilmu jiwa dalam, ilmu jiwa fikir, ilmu jiwa Gestalt , dan lain-lain dalam konseptualisasi ataupun operasionalisasi behaviorisme. Teori ekonomi juga berhenti perkembangannya pada teori klasik dan teori Keynesian; tiada teori baru, kecuali pembenahan-­pembenahan, dan tetap menampilkan kontroversi yang tak ter­selesaikan dalam pembuatan kebijakan ekonomi (Muhajir, 2002: 15) .

Kedua , dari epistemologi positivisme memandang bahwa dalam menemukan ilmu pengetahuan, peneliti harus terpisah dari obyek yang diteliti sehingga akan menghasilkan ilmu yang bebas nilai. Berkaitan dengan bebas nilai ini Habermas mengatakan ”Mereka menyatakan bahwa mereka bebas nilai. Tetapi sebenarnya tidak, kenetralan mereka dengan mudah ditempatkan sebagai alat untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Oleh sebab itu, netralitas mereka sebenar­nya juga adalah suatu bentuk keberpihakan kepada nilai-nilai dalam mempertahankan status quo” ( Fauzi, 2003: 48) . Netralitas (sikap netral dan bebas nilai) dalam penelitian sosial tidak ada dan tidak akan mungkin. Karena itu, agenda kaum positivis dan gagasan bahwa suatu teori dapat dibebaskan dari nilai-nilai adalah suatu ilusi bo­hong belaka (Habermas, 1976: 146). Kecenderungan memandang fakta sosial seba­gai bebas nilai (value free ) akan berakibat manipulasi oleh fakta-fakta atas suatu teori ilmu: teori itu tidak menyadari bahwa fakta yang dijaringnya itu penuh dengan kepentingan-kepentingan dan nilai-nilai tersendiri.

Teori Kritis dengan tegas menolak sikap yang dikatakan sehagai bebas nilai dalam pembentukan ilmu pengetahuan. Proses ini selalu saja dibarengi atau bahkan dimotivasi oleh kepentingan­-kepentingan tertentu yang melatarbelakanginya. Teori itu bebas dari segala kepentingan adalah bohong belaka. Semua ilmu pengetahuan dan pembentukan teori selalu dibarengi oleh apa yang disebutnya dengan interes-kognitif tertentu yaitu suatu orientasi dasar yang mempengaruhi jenis pengetahuan dan objek pengetahuan tertentu. Keterlibatan emosional yang kuat terlihat jelas, dan karenanya penelitian yang “:bebas nilai” adalah ilusi ( Kleden, 1987: 55)

Oleh Habermas Sikap “bebas nilai” dianggap bukan sebagai pendirian ilmiah, tetapi pendirian ideologis. Artinya bahwa sifat teori  yang ingin menerima dan membenarkan kenyataan sebagai apa adanya dengan pelbagai kedok atau dalih ilmiah untuk menutupi ketidakmampuannya  dalam mengubah keadaan tersebut (Sindhunata, 1983: 166).

Cara kerja positivist yang mendasarkan teori-teorinya pada hasil observasi (yang notabene dapat palsu) perlu ditolak, karena tidak mampu menjawab problem sentral ilmu, yaitu pengembangan ilmu. Menurut Popper tujuan ilmuwan adalah menemukan teori atau deskripsi semesta ini (terutama menemukan keteraturan-keteraturannya atau hukum-hukumnya); teori yang baik mampu menyajikan esensi atau realitas. Menurutnya, teori merupakan terkaan-terkaan informatif tingkat tinggi tentang semesta ini (Popper, 1935).

Ketiga, dilihat dari segi aksiologi , kebenaran empirik (yang sensual) itu telah mendegradasikan harkat manusianya manusia. Kebenaran itu tidak hanya dapat diukur dengan indra kita; ada kebenaran yang dapat ditangkap dari pemaknaan manusia atas empiri sensual; kemampuan manusia untuk menggunakan fikir dan akal budi memaknai empiri sensual itu lebih memberi arti daripada empiri sensual itu sendiri. Karena itu secara aksiologik, perlu membedakan antara: empiri sensual, empiri. logik, dan empiri etik. Empiri sensual dapat diamati kebenarannya berdasar empiri indriawi manusia; empiri logik dapat dihayati kebenarannya karena ketajaman fikir manusia dalam memberi makna atas indikasi empiri (yang tidak perlu menjangkau empiri secara tuntas); sedangkan empiri etik dapat dihayati kebenarannya karena ketajaman akal budi manusia dalam memberi makna ideal atas indikasi empiri. Peran dari suatu skema berfikir deduktif yang secara hipotetik atau tentatif mencari makna logik atau etik berbagai indikasi itu penting. Disebut skema hipotetik karena kebenarannya memang masih perlu untuk diuji-maknanya lagi dari proses berfikir reflektif, dan disebut deduktif karena awal konstruksinya tidak dari empiri melainkan dari kemampuan fikir atau kemampuan akal budi manusia untuk mencoba membangun suatu abstraksi, simplifikasi, atau idealisasi dunia manusia ini; dan disebut tentatif, karena konseptualisasi deduktif tersebut masih membuka kemungkinan pilihan nilai lain, yang secara reflektif diuji-maknanya lagi (Muhajir, 2002: 14-15).

Dengan kelemahan-kelemahan yang ada pada positivisme, penelitian ini akan diarahkan dengan menggunakan pendekatan nonpositivisme. Alasan lebih lanjut mengapa menggunakan nonpositivisme akan dikemukakan berikutnya.

 

A.2. Mengapa dengan non positivisme/pos-positivisme?

Sebagai rumpun bidang sosial, keberadaan praktik pengauditan sangat ditentukan  oleh interaksi sosial.  Guna memahami interaksi sosial tersebut, menurut Habermas, interpretasi saja belumlah cukup (Chua, 1986). Melainkan harus dilakukan dengan cara the inclusion of ontological, epistemological and methodological assumptions as a ground of thinking (Steffy and Grimes, 1986). Jadi dengan melakukan implementasi suatu metodologi tertentu, tidak hanya akan  menemukan pengetahuan, tetapi juga berusaha mengajukan suatu transformasi ke arah sesuatu yang lebih baik atas suatu obyek studi itu sendiri.

Ilmu pengetahuan dan praktik akuntansi/pengauditan  dibentuk dan dipertahankan oleh para individu yang hidup di lingkungan akuntansi/pengauditan, yang pada gilirannya, mereka akan merubahnya untuk melepaskan diri dari alinasi atau kesadaran kekeliruannya (false consciousness ). Dalam hal ini, penganut critical accounting study berkeyakinan bahwa akuntansi/pengauditan itu tidak dapat dipahami secara terpisah atau terlepas dani konteks sosial dimana ia diterapkan. Oleh karena itu, akuntansi/pengauditan harus dianalisa secara menyeluruh (holistik).

Akuntansi/Pengauditan merupakan ilmu sosial yang keberadaannya tidak bisa dipisahkan darinya. Realitas sosial manusia begitu kompleks  tidak bisa direduksi sebagaimana realitas alam yang sederhana. Oleh sebab itu, metode ilmu-ilmu alam tidak bisa digunakan untuk menangkap realitas manusia  dan kemanusiaan. Penelitian terhadap manusia  dan kemanusiaan harus secara total. Totalitas, memang merupakan kata kunci untuk memahami manusia.[4] Ini berkaitan dengan pengaruh Hegel dan berpikir secara dialektis menurut Hegel bukan semata-mata keseluruhan. Tetapi, keseluruhan yang mengandung unsur-unsur fenomena kehidupan manusia yang saling bernegasi, saling berkontradiksi dan saling bermediasi (Fauzi, 2003: 42).

Praktik pengauditan sangat ditentukan oleh aktor yang bermain atau berpraktik dalam pengauditan. Melihat perspektif ini, menggambarkan bahwa praktik pengauditan adalah suatu praktik sosial, dan dengan demikian praktik pengauditan dipengaruhi oleh motivasi/motivation ) , pamrih/intention ) , kepentingan/interest ) dan nilai/values ) dari aktor-aktor organisasi (lihat, Burchell et al., 1980; Chua, 1988b; Bougen, et. al 1990; Arrington and Puxty, 1991). Oleh karenanya untuk dapat memahami aktor (manusia) secara utuh yang di dalamnya dipengaruhi oleh faktor-faktor diatas, diyakini bahwa pendekatan positivisme kurang cocok diterapkan..

 

A.3. Pospositivisme

Metodologi penelitian kualitatif sebagai alternatif positivisme dapat dikelompokkan menjadi ( lihat Muhajir,    2002: 17-22 ) : pospositivisme rasionalistik, pospositivisme phenomenologik-interpretif [pembahasan lebih lanjut bisa dilihat misalnya Geertz (1973, 1979, 1983), Garfinkel (1967, 1974), Goetz & LeCompte (1984), Silverman (1972), Weber (1974, 1981)] , dan pospositivisme dengan teori kritis [pembahasan lebih lanjut bisa dilihat misalnya Burawoy (1990), Dickson (1984), Glucksmann (1974), Harvey (1990), Keat (1981), Lane (1970), Habermas  (1976, 1979)]. Model berfikir konstruktivisme dalam ilmu sosial oleh Muhajir termasuk dalam postpositivisme interpretif, tetapi memang agak memiliki beberapa kekhususan. Konstruktivis sebagaimana interpretif, menolak obyektivitas. Obyektivitas sebagaimana dianut oleh positivist mengakui adanva fakta, adanya realitas empirik, sedangkan konstruktivis berpendapat bahwa yang ada adalah pemaknaan kita tentang empiri di luar diri yang kita konstruk ( empirical-constructed facts ).

Secara ontologi, metodologi penelitian kualitatif berlandaskan phenomenologi sama dengan yang berlandaskan rasionalisme, dan berbeda dengan yang berlandaskan positivisme. Metodologi penelitian kualitatif berlandaskan phenomenologi menuntut pendekatan holistik, mendudukkan obyek penelitian dalam suatu konstruksi ganda, melihat obyeknya dalam satu konteks natural, bukan parsial. Beda dengan positivisme yang menuntut rumusan obyek sepesifik mungkin; tetapi dekat dengan rasionalisme yang menuntut konstruksi teoretik yang lebih mencakup.

Secara epistemologi, phenomenologi menuntut bersatunya subyek peneliti dengan subyek pendukung obyek peneliti. Keterlibatan subyek peneliti di lapangan, menghayatinya menjadi salah satu ciri utama penelitian phenomenologik. Berbeda dengan dua penelitian kualitatif positivisme dan rasionalisme yang menuntut pilahnya subyek peneliti dengan obyeknya. Metodologi penelitian kualitatif berlandaskan phenomenologi sangat jauh berbeda dengan yang berlandaskan positivisme; positivisme menuntut penyusunan kerangka teori (meskipun spesifik), sedangkan phenomenologi malahan sepenuhnya menolak penggunaan kerangka teori sebagai langkah persiapan penelitian. Membuat persiapan seperti itu menjadikan hasil penelitian itu menjadi produk artifisial, jauh dari sifat naturalnya. Dalam hal melihat kejadian dan tata fikir yang digunakan phenomenologi sejalan dengan rasionalisme, yaitu: melihat obyek dalam konteksnya dan menggunakan tata fikir logik lebih dari sekedar linier kausal; tetapi tujuan penelitiannya berbeda, phenomenologik membangun ilmu idiographik, sedangkan rasionalisme membangun ilmu nomothetik ( Muhadjir, 2002: 18)

Secara aksiologi, ada kesamaan antara yang phenomenologik dengan yang rasionalistik, walaupun keduanya mengakui kebenaran etik, ada value bound menurut istilah Egon G. Guba (1998). Dalam metodologi penelitian kualitatif berlandaskan rasionalislme telah disebut tentang tiga strata empiri: empiri sensual, empiri logik, dam empiri etik. Edmund Husserl mengenal pula empiri transendental. Karena itu metodologi penelitian kualitatif berlandaskan phenomenologi dapat penulis kemukakan sebagai mengakui empat kebenaran empirik, yaitu: kebenaran empirik sensual, kebenaran empirik logik, kebenaran empirik etik, dan kebenaran empirik transendental. Kemampuan penghayatan dan pemaknaan manusia atas indikasi empiri manusia menjadi mampu mengenal keempat kebenaran tersebut di atas.

Setelah diuraikan jenis dan perbedaan pospositivisme rasionalistik dan pospositivisme phenomenologik-interpretif, akan diuraikan jenis yang ke tiga.  Pospostpositivisme teori kritis dan Weltanschauung merupakan pendekatan pengembangan ilmu yang memberangkatkan penelitiannya dari ideologi atau pandangan hidup. Gerakan teori kritis berangkat dari Frankfurt Jerman, yang Marxis, Neo-Marxis, dan Kiri Baru. Gerakan ini merambah dalam banyak cabang ilmu dengan sifat radikal revolusioner. Ketidakadilan dalam banyak kehidupan diangkat dalam studi sosiologi, politik, ekonomi, hukum, dan lain-lain. Studi-studi tersebut memang mengangkat ketidakadilan dalam distribusi pendapatan, peluang berperan, dan fakta-fakta lain dari strata bawah atau minoritas atau disadvantage groups, dan itu memang perlu. Masalahnya, gerakan studi kritis yang menempuh jalan radikal revolusioner ternyata tidak berhasil di negara berkembang ataupun di negara maju. Oleh karenanya, pendukung teori kritis yang ternama, Habermas dengan piawainya menampilkan pendekatan yang menempuh jalan evolusioner dengan komunikasi dialogis. Semula Habermas pun seorang Marxis, tetapi berkembang sehingga mampu menampilkan tawaran teori kritis yang dialogis.

Habermas termasuk pemikir kritis terhadap pemikiran Marxis ataupun Neo-Marxis. Habermas memaparkan empat alasan historis mengapa konsep Marx tidak lagi relevan dengan zaman kita, yang disebut sebagai late capitalism . Politik tidak lagi menjadi superstsuktur. Standar hidup menjadi semakin baik, sehingga revolusi tidak dapat lagi digerakkan dengan tema ekonomi. Antagonisme proletar-horjuis menjadi semakin tidak valid dengan munculnya kelas menengah yang semakin besar jumlahnya. Terbukti jalan sosialis tidak dapat terwujud.

Ada dua perbedaan mendasar antara teori kritis Marx dan Habermas. Pertama, pertautan teori dan praxis pada Marx menempuh jalan konflik revolusioner, sedangkan Habermas menempuh jalan konsensus dan komunikasi. Kedua, ajaran Marxis mengalami jalan buntu karena "kerja" dipandang satu-satunya praxis hidup manusia, sedangkan Habermas memberi pemecahan, bahwa proses rasionalisasi dapat dibedakan pada bidang kerja dan pada bidang komunikasi, yang masing-masing memiliki tujuan dan karakteristik yang berbeda.

Metodologi non mainstreams sebagaimana diuraikan di atas dapat dipakai sebagai alternatif yang dapat dipakai dalam studi akuntansi/auditing untuk menjelaskan bagaimana praktik akuntansi/auditing yang sebenarnya terjadi. Metodologi ini sifatnya lebih  naturalistik daripada  rasionalistik. Dengan pendekatan ini pengetahuan akuntansi akan dilihat dari bagaimana adanya, bukan bagaimana rasionalitasnya.

 

DAFTAR REFERENSI

 

Arrington, E. and A.G. Puxty. 1991. “Accounting, interests, and rationality: A communicative relation”. Critical Perspectives on Accounting 2: 31-58. Bernstein, R. 1995. Habermas and Modernity. Edt. Cambridge: Polity.

 

Bougen, P.D., S.G. Ogden and Q. Outram. 1990. “The appearance and disappearance of accounting: Wage determination in the UK coal industry”. Accounting, Organizations and Society 15(3): 149-170.

 

Burawoy, Michael. (1990). Marxism as science: Historical challenges and theoretical growth. American Sociological Review , 55:775-793.

 

Burchell, S., C. Clubb, A.G. Hopwood, J. Hughes, and J. Nahapiet. 1980. “The roles of accounting in organizations and society”. Accounting, Organizations and Society 5(1): 5-27.

 

Chua, W. F. 1986. “Radical Developments in Accounting Thought ”. The Accounting Review 16(4): 601-632.

 

Chua, Wai Fong. 1986. Radical developments in accounting thought . TheAccounting Review LXI (4): 601-32.

 

Dickson, David. (1984). The new politics of science . Chicago: University of Chicago Press.

 

Fauzi, Ibrahim Ali. 2003.   Seri Tokoh Filsafat: Jurge Habermas. Jakarta : Teraju – Kelompok Mizan.

 

Garfinkel, Harold. (1967). Studies in ethnomethodology . Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall.

 

Garfinkel, Harold. (1974a). The origins of the term “ethnomethodology.” In Ethnomethodology , edited by R. Turner, pp. 15018. Middlesex: Penguin.

 

Glucksman, Miriam. (1974). Structuralist analysis in contemporary social thought: A comparison of the theories of Cloude Levi-Strauss ans Louis Althusser , Boston: Routledge and Kegan Paul.

 

Goetz, Judith P. and LeCompte, Margaret. 1984. Ethnography and Qualitative Design in Educational Research . New Jersey: Academic Press, Inc,

 

Guba, Egon G, Toward Methodology of Naturalistic Inquiry Evaluation , Los Angles: Center of the Study of Evaluation UCLA Graduate School of Education, University of California, L.A., 1998.

 

Habermas, Jurgen, 1976 "The Analytical Theory of Science and Dialectics", dalam TW Adorno (ed.) , The Positivist Dispute in German Sociology, London : Heinemann .

 

Habermas, Jurgen. (1976). Legitimation crisis . Boston: Beacon.

 

Habermas, Jurgen. (1979). Communication and the evolution of society . Boston: Beacon.

 

Harvey, Lee. (1990). Critical social research . London: Urwin Hyman.

 

Irianto, Gugus, (2004). “A Critical Enquiry Into Privatisation of State-Owned Enterprise: The Case of PT. Semen Gresik (Presero), Tbk, Indonesia” , Dissertation, School of Accounting and Finance, University Of Wolonggong

 

Keat, Russell. (1981) The Politics of social theory: Hobermas, Freud and the critique of positivism . Chicago: University Of Chicago Press.

 

Kidder, L. .1981. Research Methods on Social Relations (4th ed.). New York : Holt, Rinehart & Winston.

 

Lane, Michael. (1970). Structuralism . London: Jonathan Cape.

 

Muhadjir, Nung. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif,  Edisi IV. Yogyakarta: Rake Sarasin.

 

Mulawarman, Aji Dedi, (2006), Menyibak Akuntansi Syari’ah, rekonstruksi Teknologi Akuntansi Syari’ah dari Wacana ke Aksi,  Yogyakarta ; Kreasi wacana ,.

 

Neuman, W. L. 2000. Sosial Research Methods: qualitatif and quantitative approaches. 4th Edition. Needham Heights, MA: Allyn & Bacon.

 

Popper, Karl R. 1983. Realism and The Aim of  science . New jersey: Rowman and Littlefied.

 

Sileverman, David. (1972). Some neglected questions about social realty. In New directions in sociological theory , edited by P. Filmer et al. Cambridge MA: MIT Press.

 

Steffy, B.D. and A.J. Grimes. 1986. “A Critical theory of organization science”. In Belkaoui, A. 1987 . Inquiry and Accounting. New York : Quorum Books. 109-126

 

Triyuwono, Iwan. 1996. “Organisasi, Akuntansi, dan Spiritualisme Islam” , Makalah Dies Natalis 'X'I Universitas Darul Ulum, Jombang, 12 Oktober 1996 .

 

Triyuwono, Iwan. 1996. “Shari'ate Accounting: an Ethical Construction of Accounting Knowledge”, Makalah pada The Fourth Critical Perspectives On Accounting Symposium, New York City, April 26-28.

 

Triyuwono, Iwan.1997. “Akuntan dan Akuntansi: Kajian Kritis Perspektif Postmodernisme”, Makalah tidak diterbitkan, Malang 1997.

 

Weber, Max. (1974). Subjectivity and determinism. In Positivism and sociology , edited by A. Giddens. Pp. 23-32. London: Heinemann.

 

Weber, Max. (1981). Some catogories of interpretative sociology. Sociological Quarterly , 22;151-180.

 

 

 

 

 

 



[1] Tesis merupakan pernyataan yang telah diuji kebenarannya lewat evidensi, mungkin berlandaskan empiri, yang lain mungkin berlandaskan pada argumentasi; hal itu tergantung pada teori ilmu yang dianut. (Muhadjir, 2002: 8)

[2] Lihat pengantar Triyuwono pada buku Menyibak Akuntansi Syari’ah yang ditulis Aji Deddy Mulawarman (2006, hal. xix)

 

[3] Pengelompokan ini disarikan dari Muhajir (2002:  11-25)

[4] Sebagaimana dikatakan  Habermas dalam  (Fauzi, 2003: 42).


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 7+3+6

Link
Translate

Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda| Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda|Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda| Profesional, Kompeten, dan Independent Untuk Kepuasan Anda |

Copyright © 2014 Akuntan Publik Wartono · All Rights Reserved